Masakan Rumah – Murah, Praktis, cukup Gizi
28 Januari 2008 oleh defidi


Maraknya berita mengenai harga kedelai yg melambung sehingga harga produk tempe dan tahu ikut melambung! Kita bisa apa? Mau ikut demo juga? Sementara tuntutan para pendemo entah kapan terealisasi atau bahkan tidak ada kabar-kabarinya, kita toh tetap membeli tempe dan tahu dengan harga yg melonjak itu, saat ini yg dapat kita lakukan adalah kenapa tdk kita pikirkan saja bagaimana tetap merasakan tempe dan tahu namun lebih minimal jumlahnya supaya biaya yg keluar tetap atau lebih sedikitlah dari yg biasa kita keluarkan.
Ironis sebenarnya yg sedang dipermainkan adalah harga kedelai yang jelas-jelas produk olahan kedelai terutama tempe dan tahu adalah lauk primer sebagian masyarakat menengah ke bawah yg masih ada nilai gizinya, dannnnnnnnnnnnn masyarakat kita saat ini didominasi tingkat menengah ke bawah bahkan bawah sekali dengan banyaknya bencana alam yg menimpa kita. Nah jika lauk primer itu sekarang dibuat jadi mahal sehingga mulai tidak terjangkau oleh rakyat kebanyakan, apalagi yg bisa dimakan oleh mereka dgn jenis lauk yg masih ada kandungan gizinya? Dilema ini sebenarnya sangat dirasakan justru oleh rakyat diperkotaan, untuk rakyat yg tinggal di daerah terpencil atau justru yg dipedalaman kondisinya lebih baik dari yg diperkotaan, mereka masih bisa memancing di sungai-sungai yg besar untuk mendapatkan ikan, udang, kerang. Dirawa2 yg luas jg masih banyak yg dapat dikonsumsi, ada belut, jenis ikan gabus, lele dan siput. Untuk sayur mereka masih cukup mudah mendapatkannya, banyak jenis sayuran yg tumbuh liar, ada pakis, ada genjer, ada rebung bambu, ada nangka, pisang dsb. Namun tidak bisa serta merta penduduk di perkotaan terus pindah ke pedalaman kan?
Banyak para ibu sangat mengeluh dengan kondisi ini, tapi lagi lagi pertanyaan, kami bisa apa? Pertanyaan itu selalu dipikiran mereka setiap hari, mau teriak2 dgn sang bapak juga percuma, toh uang yg dibawa bapak malah semakin sedikit dari biasanya. Jika yg dinaikkan harganya jenis udang atau keju mereka tdk perduli toh komoditi tersebut tdk dinaikkanpun mereka jarang mengonsumsinya.
Namun jika kita hanya mengeluh tanpa melakukan sesuatu siapa yg mau peduli, kita berteriak2 dan para pedagang stop jualan bahkan ada pedagang gorengan yg bunuh diri (berita di media masa), siapa yang perduli!!!! toh mereka yg mampu tetap makan tempe semahal apapun harganya, mereka tetap keluar masuk restoran yg mewah.
Nah sekarang kita sebagai ibu yg menguasai dapur dimana dapur adalah salah satu media untuk menjadikan bangsa ini bangsa yg hebat, mesti bisa menyiasati supaya bisa tetap memberikan makanan yg cukup bergizi kepada anggota keluarga. Bukankah para milyader dan para orang yang merasa dirinya pintar adalah anak ibu yg diberi makanan hasil masakan ibu, sekecil dan sekumuh apapun dapur tetaplah tempat seorang ibu memberikan baktinya kepada keluarga, tempat para ibu curhat bahkan sambil menangis memikirkan apa yg bisa dimasak untuk anggota keluarganya hari ini, sehingga tdk sedikit dari hasil dapur yg kumuh tercipta anak yg pandai dan kelak menjadi orang yg hebat?
Lebih ironis lagi setelah menjadi orang yg katanya hebat bahkan sdh bergelimang harta tidak mau sedikit saja menoleh memikirkan dapur ibu2 lain yg dulu seperti dapur ibunya! Mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang ibu memasak batu dgn tujuan untuk menekan rasa lapar sang anak manakala sang anak menanyakan makanan sang ibu selalu berujar “Sebentar ya nak, makanannya belum masak” sampai si anak tertidur sambil menahan rasa lapar. Juga cerita seorang anak yg setiap kali lapar pergi ke sumur minum air mentah, lapar lagi kemudian minum lagi, lapar lagi kemudian minum lagi sampai dia kelelahan dan tertidur.
Dulu waktu aku masih kecil, ayah membawa aku jalan2 ke sebuah desa yg mayoritas penduduknya adalah petani, saat itu ayah adalah PNS di DPU sebagai kepala pengairan, seringkali aku ikut survey melihat bagaimana ayah bekerja mengontrol apakah pintu2 DAM bekerja baik supaya dapat mengaliri saluran2 air yg lebih kecil supaya asupan air ke sawah lancar. Padi tumbuh dengan sangat subur dan tentu saja predator padi terutama belalang dan burung pipit sangat senang, namun ternyata predator belalang pun banyak selain burung para petani itupun jadi predator termasuk aku, walaupun tdk sengaja he he he.
Pada saat makan siang kami makan di salah satu pondok petani itu, lauk yg disajikan amat sangat sederhana, ada nasi jagung, sambal, beberapa potong tempe dan ada gorengan seperti udang, namun karena minyak untuk menggoreng jelantah jadi tdk jelas bentuk gorengan itu. Namun dengan lauk apa adanya makan di tengah sawah sesekali menarik tali yg langsung berbunyi krontang2 karena tali tersebut digantungi kaleng kosong untuk mengusir burung, terasa sangat nikmat bahkan nambah. Setelah selesai makan aku bilang, udangnya gurih sekali ya, beli dimana? Sang petani bilang, udang yg mana mbak? Aku menunjuk piring bekas gorengan yg sdh kosong. Lah itu bukan udang mbak, itu walang goreng? Hek langsung ada yg aneh di leher mendengar walang goreng, tapi ya sudahlah mau bilang apa rasanya enak koq kek kek kek. Dan ternyata belalang sawah itu nilai gizinya tinggi loh, iyalah, masuk logika kan makanannya daun padi yg masih muda dan seger. Dan yg penting halal.
Dilain kesempatan kami disuguhkan makanan yg terdiri dari oseng mentimun, sambal terasi dan anak ikan yg digoreng sampai garing. Kalo ingat saat itu dan aku hubungkan dengan jenis makanan yg cukup terkenal di Bogor yaitu baby fish goreng atau yg diberi judul ikan balita goreng jadi tersenyum, sudah sejak zaman dulu makanan itu dikonsumsi masyarakat pedesaan atau masyarakat yg tinggal di tepi sungai2 besar, di perkotaan baru trend sekarang he he he he he. Waktu pertama kali teman menyuguhkan makanan itu sambil berkata: cobain deh ini lagi terkenal loh dan waktu dia beritahu harganya yg cukup mahal giliran aku yg tercengang, melihat jenis ikannya seperti anak ikan mas atau mujair, mudah-mudahan ga salah ya. Yang membedakan mungkin cara menggorengnya saja, jadi si anak ikan goreng terlihat bersih, kuning cerah nggak seperti di pedesaan yg agak kehitaman.
Nah dari berbagai survey ke desa-desa ikut sang ayah, banyak pengalaman yg bisa diambil, rakyat desa yg hidup apa adanya dgn keterbatasan biaya namun mereka masih bisa menyuguhkan makanan yg cukup bergizi untuk anggota keluarganya, dan anak-anak petani desa banyak yg pintar2 bahkan jika sekolah ke kota mereka tdk kalah pintar dengan anak-anak kota. Dengan segala keterbatasan itu justru banyak menimbulkan ide karena mereka harus bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti itu.
Hasil dari jalan-jalan ke desa ditambah modifikasi sedikit resep, mudah-mudahan bisa menyiasati masakan kita di rumah dengan masakan murah, enak dan masih ada kandungan gizinya.
Mudah-mudahan sumbangan resep yg sederhana ini bisa sedikit menyiasati masakan dengan naiknya hampir semua bentuk bahan pangan.
Nasi gurih kaldu ceker dan ceker masak kecap
Bahan:
- 500 gr beras
- 10 buah ceker ayam
- 1 batang sereh
- 2 siung bawang putih
- 5 lembar daun salam
- 1 sdm peres garam
- 1 ruas jari jahe
- Air secukupnya
- 1 Sdt bubuk kaldu ayam
- Cacah bawang putih, goreng hingga berwarna kekuningan, sisihkan
- Geprek sereh dan jahe sisihkan
- Rebus air , caker ayam, sereh dan jahe hingga mendidih.
- Masukkan beras, bawang putih goreng, garam dan daun salam, masak hingga air habis (seperti aron nasi biasa), dinginkan. Pisahkan ceker ayam.
- Panaskan dandang, kukus hingga matang.
- Untuk ceker, tumis 1 siung bawang putih masukkan ceker, beri air 250 ml, masak hingga ceker lembut dan air asat, setelah air asat tambahkan ½ sdt garam, sedikit bubuk kaldu ayam, dan kecap. Aduk-aduk hingga rata, siap di hidangkan bersama Nasi kaldu ceker.
Sekarang kita coba menyiasati tempe dengan membuat sambal tempe, beda dengan orak-arik tempe loh.
Jika satu lempeng tempe yg harganya dari Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1.500,- atau Rp. 2000,- jika kita jadikan tempe goreng hanya dapat 5 potong tempe goreng untuk sekali makan, tapi dengan kita buat sambal tempe bisa untuk 2 kali makan, cukup mengirit kan?
Juga untuk tahu, 10 buah tahu yg kecil jika kita jadikan tahu goreng saja hanya mendapat 10 potong tahu goreng untuk sekali makan. Jika kita buat perkedel tahu bisa menjadi 20 potong dan dapat untuk disajikan 2 waktu makan (makan siang dan makan malam).
Coba kita estimasi biaya masakan sederhana, misal hari ini rencana masak sambal tempe, semur ati ampela kentang dan sup sayur. Dengan asumsi belanja di tukang sayur yg lewat depan rumah saja ya?
Bahan-bahan yang dibeli:
- Tempe 1 keping Rp.1.500,-
- Ati Ample 2 pasang Rp.2.500,-
- Sup per bungkus Rp.1500,- beli 2 bungkus Rp.3.000,-
- Bahan sambal (tomat Rp.500, Cabe Rp.1000, bawang merah & putih Rp.1.500)
- Rebon asin Rp.1000,-
- Bubuk kaldu ayam Rp.400,-
- Total belanja Rp.11.400,-
Sup sayur kaldu ati ayam
Cara membuat :
- Tumbuk kasar 2 siung bawang putih dan 1 siung bawang merah, dan iris tipis 1 ruas jari jahe. Tumis bumbu tersebut hingga harum, masukkan ati ample, masak hingga berubah warna, beri garam. Tambahkan air secukupnya , masukkan wortel, rebus hingga mendidih. Masukkan buncis, masak hingga setengah matang. Masukkan daun kol dan daun bawang seledri, masak hingga matang. Ambil Ati dan ampela dari sayur sop, sisihkan .
Cara membuat:
- Haluskan 1 siung bawang putih dan bawang merah, tumis hingga harum, tambahkan air secukupnya. Masukkan daun salam, 1 ruas jahe di geprek, kecap manis, garam dan sedikit air asam jawa. Masukkan potongan kentang (kentang kita ambil dari paket sup tadi), didihkan. Masukkan potongan ati ample ayam + bubuk kaldu ayam, masak hingga bumbu meresap. Selesai sudah semur ati ample ayam.
- 1 keping tempe
- 1 siung bawang putih
- 2 siung bawang merah
- 3 buah cabai merah
- ½ sdt gula
- ½ sdt garam
- 1 sdm rebon asin
- Potong kecil tempe, goreng hingga kering/atau setengah kering.
- Goreng sebentar, cabe merah, bawang merah dan bawang putih, dan rebon asin
- Haluskan cabe merah, bawangmerah, bawang putih, rebon, gula dan garam.
- Masukkan tempe, tumbuk kasar bersama bumbu halus.
Coba kita belanja lagi ya? Rencana masak Perkedel/Gadon tahu, Sayur Lodeh dan Sambal Terong
- Tahu kecil isi 10 Rp. 2.500,-
- Sayur asam 1 bungkus Rp. 1.000,- beli 2 bungkus jadi Rp. 2.000,-
- Santan kara siap pakai yg kecil Rp. 1.500,-
- Bumbu dapur Rp. 500,- (biasa isinya, sereh, daun salam, dan lengkuas)
- Terong Rp. 1.500,- (bumbu u terong, bisa pakai sisa bumbu untuk sambal belanja kemarin)
- Telur 2 buah Rp.1.500,-
- Bubuk kaldu ayam (pakai sisa kemarin)
- Total belanja Rp.9.500,-
Perkedel tahu atau gadon tahu.
Cara membuat :
- Hancurkan tahu, masukkan garam, bubuk kaldu, dan telur, aduk rata.
- Jika ada tepung terigu dan 1 buah wortel bisa ditambahkan dalam adonan (wortel sebaiknya di potong panjang kecil halus atau parut kasar).
- Goreng perkedel tahu dengan cara membulatkannya menggunakan 2 sendok atau masukkan 1 sendok makan adonan ke daun pisang (buat seperti gadon), kukus hingga matang.
Cara membuat:
- Bersihkan semua sayur, pisahkan sesuai dengan keras atau lunaknya sayur.
- Haluskan bawang merah 3 siung, bawang putih 2 siung, 4 buah kemiri dan 1 sdt penuh udang rebon. Tumis hingga harum, sisihkan.
- Geprek 1 batang serai dan cuci bersih 4 helai daun salam, sisihkan
- Rebus melinjo bersama air secukupnya hingga mendidih, masukkan labu siang yg dipotong kecil dan jagung manis, rebus hingga setengah matang, masukkan kacang panjang, garam & gula pasir secukupnya dan bumbu halus yg telah ditumis, sereh dan daun salam. Rebus hingga kacang panjang matang. Terakhir masukkan daun kol, daun melinjo dan santan, kecilkan api dan aduk-aduk sayur jangan sampai santan pecah. Siap dihidangkan.
Cara membuat:
- Bersihkan terong, potong menjadi 4 bagian setiap satu buah terong.
- Haluskan, 10 buah cabe merah,2 siung bawang putih, 3 siung bawang merahdan 2 buah tomat ukuran kecil , sisihkan.
- Geprek 1 ruas jari lengkuas , sisihkan.
- Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan terong, tambahkan 300 cc air, garam + gula halus + bubuk kaldu ayam secukupnya, aduk rata. Masukkan lengkuas dan daun salam. Masak hingga air asat dan terong matang. Siap dihidangkan.
- Masakan yg kita buat untuk keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, 2 anak . Jika anggota keluarga lebih banyak, sebaiknya tambahkan sayurnya, misalnya : sayur lodeh tadi kita tambahkan lagi labu siam, daun kol yg harganya relatif murah. Atau kita tambahkan terong pada sambal terong.
- Harga bahan-bahan yang kita belanja tadi tidak disemua tempat sama ya? Itu asumsi yang aku buat jika aku belanja di tukang sayur yang selalu menghampiri setiap hari. Jika kita punya dana yg memadai dengan belanja sekaligus untuk 4 hari dipasar tradisional atau di pasar induk, harga yg didapat tentu saja lebih murah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar